KESADARAN YANG TERHAMPARKAN

Ketika hidup harus diperjuangkan, maka kegagalan sudah pasti akan datang. Namun, kau harus bisa mengendalikannya. Maka kemenangan takkan tega tuk menjauhimu. Cinta tak pergi tuk mendua...

Wednesday, May 17, 2006

Alam dan al-Qur’ân

Ayat-ayat kawnîyyah al-Qur’ân
Apakah alam ini tercipta atas dasar muncul dengan sendirinya atau apakah ada keterangan yang menyatakan bahwa alam terjadi atas adanya intervensi dari pihak tertentu atau sesuatu yang biasa disebut dengan roh absolut?


1. Latar belakang munculnya ayat-ayat kawnîyyah
Berdasarkan pertanyaan diatas, maka dengan makalah ini saya akan membahas alasan dasar yang menjadi sangat kontroversi pada masa sekarang ini. Para ahli sains telah menyatakan beberapa penemuannya – Darwin dengan teori evolusinya, yang menyatakan bahwa alam ini terjadi atas dasar evolusi – dari atom-atom membentuk struktur sampai kepada manusia. Newton dengan Principia yang berisikan teori gravitasinya dan lain sebagainya.

Kenapa ayat-ayat kawnîyyah diturunkan oleh Tuhan ?
Ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan beberapa belas abad yang lalu mengandung uraian yang secara global mengenai cosmos ini. Untuk itu perlu pembacaan yang sangat mendalam agar orang atau umat yang membaca ayat tersebut dapat memahami dan mengerti apa-apa yang dimaksudkan oleh al-Qur’ān. Tidak seperti ilmu lainnya, yaitu fisika dan sains pada umumnya yang telah diturunkan 7 abad yang lalu, orang-orang telah banyak dapat memahaminya dengan baik.

Pembacaan ayat-ayat kawnîyyah dengan baik tentunya akan dapat memahami alam dan segala isi yang ada di dalamnya. Akan tetapi pertanyaannya adalah apa alasan Allah swt. menurunkan ayat-ayat kawnîyyah tersebut. Jawabnya terdapat dalam surah al-Anbiyā ayat 30 yang mengatakan : “Dan dari air kami ciptakan segala sesuatu yang hidup mengapakah mereka tidak juga beriman?”.
Maksudnya adalah agar manusia percaya akan alam raya yang diciptakan, bukan seperti teori evolusinya Darwin. Banyak sekali para ilmuan yang sangat bersemangat untuk membuktikan bahwa alam menurut sainslah yang paling benar. Berbagai teori telah dikemukan dan satu persatu tumbuh dan dengan satu persatu pula diantara teori mereka saling menjatuhkan teori masing-masing. Hingga pada tahun 1964, Wilson dan Penzias dalam observasinya ke segenap penjuru alam menemukan sisa-sisa kilatan dentuman besar (big bang) yang terjadi sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Untuk hal ini al-Qur’ān menjelaskan dalam surat Fushshīlat ayat 53 yang artinya :
“Akan kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’ān itulah yang benar”.

Selain ayat diatas yang menunjukkan bahwa betapa pentingnya pembacaan terhadap alam melalui ayat-ayat kawnîyyah, dengan alasan keharusan manusia untuk mengenal alam sekelilingnya dengan baik, maka Allah kemudian menjelaskan dan memerintahkan agar kita mengamati alam sekitar kita dengan surat Yunus ayat 101 :
“Katakanlah (wahai Muhammad Saw.) Periksalah dengan pengamatan apa-apa yang ada di langit dan di bumi”.

Sebagai keterangan lebih lanjut tentang perintah dalam pembacaan ayat-ayat sains sebagai dasar pengetahuan yang global telah di sampaikan oleh al-Qur’ān dalam surat al-Ghāsiyah ayat : 17 – 20 dikatakan “Maka apakah mereka tidak melakukan pengamatan dan memperhatikan onta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ia diangkat. Dan gunung-gunung, bagaimana mereka ditegakkan. Dan bumi, bagaimana ia dibentangkan.”

Kapan munculnya ayat-ayat kawnîyyah ?
Begitu mungkin pertanyaan yang harus dimunculkan demi pembuktian kebenaran ayat-ayat kawnîyyah. Dalam upaya untuk membuktikan ayat-ayat al-Qur’ān yang berhubungan dengan penciptaan alam, al-Qur’ān dalam berbagai penjelasannya dalam surat-suratnya banyak sekali bukti kebenarannya yang belum terbantahkan satupun ayatnya. Betapa persiapan Allah dalam menciptakan alam ini sangat matang jika pemahaman dari aspek ilmu kemanusiaan. Namun tidak sesederhana itu, aspek lainnya adalah dimana jika itu dihubungkan dengan ayat “Jadilah, maka jadilah”. Jadi perencanaan yang dimaksudkan pada pernyataan diatas adalah bahasa manusia yang sederhana.

Kemudian kita akan menarik kesimpulan bahwa ayat-ayat kawnîyyah yang diturunkan Allah itu muncul sebelum alam semesta itu muncul. Ketika Allah mempunyai keinginan untuk menciptakan alam maka ayat yang berhubungan dengan alam pun muncul.

Jika kita membandingkan ayat satu persatu dengan bibel mengenai alam maka kemunculan ayat-ayat kawnîyyah dalam bibel menyatakan bahwa ayat kawnîyyah itu muncul setelah alam raya diciptakan setelah tuhan beristirahat atau hari sabat. Namun, dalam al-Qur’ān dinyatakan bahwa ayat kawnîyyah muncul sebaliknya.

2. Para ilmuan membagi alam kepada beberapa faktor berdasarkan ayat-ayat kawnîyyah

Penciptaan Alam
Dalam pembahasan mengenai penciptaan alam ini, pemahaman pada abad ke-20 para pakar sains banyak mengatakan bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang membuatnya mengandung denergi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif. Vakum yang mempunyai kqandungan energi yang luar biasa besarnya serta tekanan gravitasi yang netgatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas. Tatkala alam mendingin, karena ekspansinya.

Menurut mereka alam raya berasal dari ketiadaan, dan beberapa para pakar sains mengatakan bahwa materi melakukan ekspansi kemudian terjadi seperti dentuman besar. Einstein, yang mengembangkan teori cosmos yang statis kemudian beralih kepada teori Hubble yang menyatakan bahwa alam raya berekspansi.

Selain hal diatas, ada juga para pakar sains yang mengutarakan teori dentuman besar yang dinyatakan oleh Gamow yang kemudian diruntuhkan oleh teori Hoyle tentang kebradaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara “uniform”. Yang terakhir adalah teori bahwa alam raya adalah “oscillating universe” atau kembang kempis yang ternyata teori ini sangat lemah sekali karena jika bumi atau alam raya kembang kempis maka menurut Weinberg alam semesta seperti ini akan meledak dan masuk kembali tak henti-hentinya.; tak berawal dan tak berakhir.

Karena berbagai sains tak begitu mampu untuk menjelaskan alam raya dimana orang tidak bisa menerima antara teori mereka dengan kenyataan sebenarnya, maka al-Qur’ān memberikan penjelasannya dalam surat al-Fath ayat : 23
“Sebagai sunnatullah yang berlaku sejak dahulu, sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu”.

Surat al-Anbiyā ayat 30 dikatakan “Dan tidakkah orang-orang yang kafair itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi materi itu dulu sesuatu yang padu (dalam singularitas), kemudaiankami pisahkan keduanya itu”.

Kemudian dalam surat adz-Dzāriyat ayat 47 diaktakan “Dan ruang-waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensiya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang meluaskannya (sebagai cosmos yang berekspansi)”.

Manusia dan Pemanfaatannya alam
Manfaat alam semesta saya kira banyak sekali bagi kehidupan kita di dunia ini. Salah saqtunya adalah memberikan kelangsungan hidup manusia dan makhluk-makluk yan ada di alam semesta ini. Yang paling penting adalah sudah saya singgung di atas tadi bahwa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ketika kita melihat alam yang diciptakan Tuhan, tanpa ragu bahwa seluruh ciptaan merupakan satu kesatuan yang mematuhi Hukum Tunggal dari Maha Pencipta. Jika tidak demikian maka tidak mungkin ada keseimbangan yang sempurna, yang abadi. Hal ini merupakan suatu kerjasama dan kesesuaian antaara berbagai bagian alam semesta, dan juga patuh terhadap perintah Tuhan. Kembali kepada diri kita sendiri apakah kita bagian dari alam semesta ini harus tunduk dan patuh terhadap Tuhan?

Dengan pengetahuan untuk memahami alam semesta sebagai ciptaan Tuha, seharusnya kita memahami sesungguhnya Tuhan itu Maha Agung. Dan yang pasti, ketika manusia itu berfikir akan hal itu, maka ia akan semakin percaya dan semakin dekat kepada Tuhan. Pada masa sekarang timbul pertanyaan kenapa saintis-saintis modern banya diantar mreka tidak mempercayai Tuhan, padahankeseharian mereka bergelut dengan alam ini.
3. Kesimpulan

Pendekatan falsafi vs saintik
Jika kita melakukan pendekatan falsafi maka proses penciptaan alam tentunya bukan seperti apa yang dinyatakan oleh para saintis di abad ke-20. alam menurut pendekatan falsafi adalah dimana kita berusaha untuk mencarai makna penciptaan alam. Bukan hanya melihat alam dari apa yang terinderai. Oleh karena itu, menurut hemat saya bahwa saintis itu berupaya untuk menjadikan dirinya sebagai alat ukur dari kebenaran yang telah diungkapkan oleh kitab-kitab agama. Sedangkan falsafi berupaya untuk menggabungkan antara kebenaran realitas dengan makna alam sesungguhnya.

Agama vs sains dalam penciptaan alam semesta
Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’ān yang menyatakan tentang proses terjadi alam raya ini. Namun, proses sesungguhnya yang hanya diketahui melalui surat-surat al-Qur’ān perlu pembuktian konkrit. Dalam kitab injil dinyatakan bahwa sains dan agama adalah suatu bentuk yang tidak dapat dipersatukan, karena ketika sains itu salah maka pilih bibel sebagai pembenaran. Namun, bagi al-Qur’ān dinyatakan bahwa sains itu perlu untuk pembuktian kebenaran, karena salah satu cabang ilmu yang mampu untuk memberikan penilaian ayat-ayat dalam kitab suci adalah sains. Tetapi, ketika sains itu keliru, maka sesungguhnya sains belum memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’ān bukan dibuang seperti isi dari bibel.

3 Comments:

At 2:49 AM, Blogger Anak Perantauan said...

wah nyontek neh cuma copy faste aja, tulis dong dengan pemikiran sewndiri....?????

 
At 1:28 AM, Blogger Suryahman said...

jang tunjukkan g yang bagian mananya. coz gw sendiri punya ref. yang dapat gw pertanggung jawabkan. klo lo mo baca lo bisa akses library gw. oc bos
to : anak rantau

 
At 1:41 AM, Blogger Anak Perantauan said...

Oke bosss, sorry cuma merangsang lo nulis lagi.....

 

Post a Comment

<< Home