KESADARAN YANG TERHAMPARKAN

Ketika hidup harus diperjuangkan, maka kegagalan sudah pasti akan datang. Namun, kau harus bisa mengendalikannya. Maka kemenangan takkan tega tuk menjauhimu. Cinta tak pergi tuk mendua...

Friday, May 19, 2006

Bagaiman Konteks Jihad itu?

Psikoanalisis Sigmund Freud
Terhadap pemikiran Imam Samudra

Pendahuluan
Sebagai pengantar untuk mengetahui latar belakang pemikiran dari seseorang yang seolah-olah merasa bahwa dirinya adalah seorang pendekar dari kampung seberang. Imam Samudra berani dengan terang-terangan mengungkapkan perlawanannya dengan kaum yang dia anggap sebagai kafir.
Imam dituduh melakukan serangan bom bulan Oktober 2002 terhadap dua buah klab malam Bali yang menewaskan 202 orang, kebanyakan wisatawan asing dari Autralia bersama sahabatnya yang lain, Amrozi dan Ali Ghufron alias Mukhlas. Dalam bukunya "Aku Seorang Teroris", Imam Samudra mengaku, cara yang ditempuhnya hanya sebagai peringatan kepada negara Barat yang terus-menerus mendzalimi umat Islam.

Landasan pemikiran Imam Samudra
Perjalanan hidupnya yang memilih sebagai seorang mujtahid dimulai dengan dasar pemikiran dengan membaca buku Allah Turun di Afganistan. Isinya tentang para syuhada di Afganistan. Ada yang digilas tank, tapi tak mati, mungkin karena memang belum waktunya. Ada juga kisah dari makam para syuhada, setiap Senin dan Kamis, terdengar orang bertakbir. Atau soal pasukan mujahidin yang terkurung di satu bukit, tanpa makanan sama sekali. Tiba-tiba, ada helikopter yang menerjunkan makanan bagi tentara Rusia, yang juga terkurung di bagian bukit yang lain. Tapi, dengan takdir Allah, justru makanan itu jatuh di tempat mujahidin.
Kisah seperti itu yang membuat Imam Samudra tertarik. Banyak riwayat, tentunya yang shahih, fadhilah, atau keutamaan para syuhada. Dikatakan, begitu darah pertama tertumpah ke bumi, segala dosanya diampunkan. Belum lagi jasadnya jatuh, sudah disambut oleh bidadari, yang wanginya itu melebihi dunia dengan segala isinya. Sesaat sebelum dia terluka, telah ditentukan tempatnya di surga. Makanya, dengan keyakinan itu, Imam Samudra tak pernah mundur untuk menjadi seorang mujtahid.
Buku tersebut ia baca semenjak duduk kelas dua SMP. Yang ia dapat dari sepupunya yang juga sorang syahid di Afganistan yang bernama Ahmad Sobari. Setelah selesai membaca buku tersebut kemudian ia berminat untuk berangkat ke Afganistan. Dan ia akhirnya berangkat ke Afganistan pada tahun 1990.
Dengan perbekalan pengetahuan dari pesantren tempat ia mondok untuk belajar ilmu agama, dan pengalaman pengetahuan melalui buku yang ia baca tersebut, ia meyakini bahwa perjuangan jihad pada masa sekarang adalah menyebarkan dakwah bukan melakukan jihad seperti di tanah Afganistan.
Namun, setelah ia berada di Afganistan ia berubah menjadi 180 derajat. Cara berfikirnya yang lazimnya para orang islam indonesia. Yang menyukai pemikiran syi’ah, muktazilah dan lain sebagainya.
Pemikiran-pemikiran Imam Samudra sangat dipengaruhi oleh Syekh Abdurrasul Sayyaf salah seorang panglima mujahidin di Afganistan. Yang bertujuan untuk mengembalikan fikrah
[1] yang sebenarnya. Landasan berikutnya ia ambil dari sebuah hadist yang artinya yang terberat itulah yang terbenar. Dan itu pasti dibenci oleh orang-orang kafir. Jadi, saya mulai masuk ke dalam mazhab salafus sholeh (mazhab yang berupaya memurnikan kembali ajaran Quran dan hadis, salah satunya dengan cara mengikuti cara hidup Nabi Muhammad.
Secara fisik, katakanlah, memang ada proses militerisasi. Dalam arti dengan jalan Islami, tidak bercampur dengan teori-teori kafir yang lazimnya boleh langsung tampar jika ada yang salah, atau ditelanjangi. Kami tak seperti itu. Jadi, betul-betul dengan metode on to the heart, masuk ke dalam hati betul. Yang salah paling disuruh baca Al-Quran atau baca hadis, atau hukumannya hanya push up dan lari. Kelihatannya itu memang sepele, tapi itu bisa menyentuh hati kata Imam Samudra. Yang sempat berada di Afganistan selama tiga tahun.
(Sebutan teror bom) itu propaganda orang kafir. Mereka paling tahu cara membungkam Islam. Memang, dalam perang seperti itu, selalu ada propaganda melemahkan lawan. Kita sampai menyebut hal itu teroris karena ayat dalam Al-Quran yang berbunyi ”sampai mereka merasa takut” diterjemahkan Al-Quran versi Inggris oleh Yusuf Ali sebagai to terrorized, bukan to be afraid.
Landasan untuk melakukan pengeboman oleh Imam Samudra dengan memahami firman Allah Swt., ”Dan perangilah mereka sampai tak ada fitnah.” Hanya ada satu jalan, yaitu jihad. Ada tafsir dari Ibnu Katsir soal fitnah itu. Pertama, kemusyrikan. Kedua, tidak menegakkan hukum Allah. Jadi, untuk mengeliminasi fitnah itu, hanya ada satu cara, dengan jihad. Bukan lewat pemilihan umum, bukan dengan demokrasi. Itu konsep Barat dan yang sekarang menjadi dien atau agama baru. Kemudian ia mengatakan bahwa umat islam telah bersikap pengecut dengan menyembunyikan hadis sahih. Seperti yang diriwayatkan Bukhari-Muslim disebutkan, ”Aku diutus oleh Allah menjelang hari kiamat dengan membawa pedang.” Itu hadis sahih. Bukan soal perhatian atau simpati. Kami hanya menjalankan kewajiban syar’i, kewajiban syariat, hanya dengan satu jalan: jihad fisabilillah.
Imam Samudra memberi contoh, ada satu pendakwah Islam yang sangat populer sekarang dan disukai oleh semua agama. Saya tertawa. Itu something wrong. Coba kita lihat Muhammad sebelum mendapatkan kenabiannya. Semua orang suka kepadanya dan dia dijuluki ”Al-Amin”. Dari kaum Quraisy sampai Yahudi pun suka dengan dia. Tapi, begitu risalah kenabian datang, namanya berubah menjadi ”Al-Majnun”. Dibilang orang gila, dibilang tukang sihir, memecah belah persatuan. Jadi, memang seperti itu. Pasti dicela dan dimaki. Seperti firman Allah Swt., ”Dia mengutus kamu Muhammad dengan hidayah, untuk dimenangkan, walaupun orang kafir membenci.” Jadi, kebencian itu adalah satu konstanta. Jadi, kalau tak dibenci orang kafir, ya, artinya belum sampai ke tahap itu. Ganjaran aksi terorisme adalah hukuman mati....
Hukuman mati baginya tak akan menyelesaikan persoalan. Ini cuma setitik debu bagi para mujahid yang masih berjuang di luar. Bahkan ia bersumpah, bahwa persoalannya jihad tersebut tak akan selesai. Demi Allah, tak akan selesai.

Psikoanalisis Sigmund Freud
Agama yang diyakini oleh Imam Samudra tersebut merupakan sebuah patologis. Ia meyakini bahwa ketika ia melakukan jihad dan mati dalam melakukan pembunuhan terhadap orang yang ia anggap kafir tersebut akan langsung masuk syurga dan akan disambut oleh bidadari-bidadari yang cantik.
Pemahaman semacam ini merupakan sebuah keinginan seseorang yang tidak mampu untuk mendapatkan keinginannya di dunia ini. Sehingga ia menggunakan jalah pintas, walaupun jalan tersebut melalui jalur agama. Ia berupaya menjadikan agama sebagai legitimasi terhadap kebrutalannya untuk melakukan kejahatan sosial. Pembenaran semacam ini tidak bisa diterima begitu saja. Ketika orang yang ia anggap kafir itu dibunuh, maka kemudian bagaimana ia mempertanggung jawabkan perbuatannya dalam koridor hukum konvesnsional, bagaimana dengan HAM.
Bahkan menurut sigmund freud, Angan-angan dirinya sewaktu SMP, membuat dirinya selalu mengharapkan keajaiban yang akan didapatkan dari tindakan semacam itu. Padahal secara kontekstual kita ketahui bahwa di Afganistan berbeda kulturnya dengan indonesia (sebuah pengalaman dimasa kekanak-kanakan).
Dalam alinea ke dua dalam landasan pemikiran Imam Samudra ia mengatakan begitu darah pertama tertumpah ke bumi, segala dosanya diampunkan. Belum lagi jasadnya jatuh, sudah disambut oleh bidadari, yang wanginya itu melebihi dunia dengan segala isinya. Sesaat sebelum dia terluka, telah ditentukan tempatnya di surga. Dengan berpandangan seperti itu, sangat diyakini sekali bahwa seorang Imam Samudra tersebut bukan seorang manusia yang realistis tetapi seorang pemimpi, yang oleh karenanya itu, dalam pemahaman agama yang ia yakini tersebut ternyata tidak memberikan kebahagian bagi banyak orang dan hanya membawa ketakutan bagi orang lain. Menurutnya keyakinan yang paling benar adalah keyakinan seperti yang ia yakini. Penjustifikasian seperti ini merupakan sebuah penyakit kejiwaan yang oleh freud orang semacam ini merasa tak berdaya atas apa yang sedang terjadi dan manusia memahami agama secara tekstual.
Sebuah neurosis pada Imam Samudra adalah pengalaman tentang bidadari yang akan menyambut orang yang melakukan jihad di jalan Allah, dan sebuah keajaiban akan datang pada orang-orang yang melakukan hal tersebut.


[1] Pemikiran

0 Comments:

Post a Comment

<< Home