KESADARAN YANG TERHAMPARKAN

Ketika hidup harus diperjuangkan, maka kegagalan sudah pasti akan datang. Namun, kau harus bisa mengendalikannya. Maka kemenangan takkan tega tuk menjauhimu. Cinta tak pergi tuk mendua...

Monday, October 09, 2006

Bagaimana Seharusnya Umat Islam Bersikap?

Oleh Suryahman
Mahasiswa Falsafah dan Agama
Universitas Paramadina

Sebuah fenomenologis yang terjadi belakangan ini adalah sebagai sebuah teka-teki kehidupan sosial-kemasyarakatan yang harus kita selesaikan. Persoalan keberagamaan yang begitu dominan dalam kehidupan manusia tentunya sangat mempengaruhi tatanan kehidupan sosial mereka sehari-hari. Apakah persoalan kehidupan umat Islam yang selalu mengajarkan kebaikan, tolong-menolong dan lain sebagainya, tentunya dimana Islam yang sangat menekankan konsep ukhuwah Islamiyahnya yang dimungkinkan dapat memberikan implikasi dan kontribusi yang baik terhadap tatanan kehidupan sosial masyarakat yang sudah sedemikian kompleksitas.

Di era modern seperti sekarang ini tak pelak lagi kita dihadapkan pada persoalan modernitas khususnya bagi umat Islam yang itu semua terkesan sebagai budaya kebarat-baratan. Oleh karena itu, menurut saya, bahwa kegagalan kaum muslimin yang terjadi pada kasus Kamal Attaturk adalah sebuah tindakan tentang pemahaman Islam yang keliru. Tindakan untuk men-Turki-kan semua ajaran Islam dan upaya untuk merubah tradisi yang sudah begitu kental dengan budaya masyarakat setempat tidaklah baik untuk dilakukan. Tetapi bagaimana seharusnya ia mampu memadukan dan menyerap tradisi masyarakat dengan program modernisasinya. Namun sebaliknya, Attaturk juga memberikan kontribusi terhadap kemajuan Turki dalam hal pemerintahan. Hampir dikalangan ortodoksi Islam mengatakan dan selalu mengenang akan kekuasaan Turki Utsmani, bahwa dunia akan maju jika Islam menjadi pemimpin atau Khalifah dimuka bumi ini. Namun, perlu disadari ketika ke Khalifahan Turki Utsmani dan daerah kekuasaannya wilayah yang sangat luas. Akan tetapi perkembangan pendidikan sangat jauh tertinggal. Hampir seluruh dana pemerintahan diperuntukkan bagi perluasan daerah kekuasaan. Kemudian apa yang harus kita lihat dari perkembangan ke khalifahan tersebut dan apa kontribusi mereka terhadap perkembangan pendidikan dunia Islam.

Ketika Attaturk mulai melakukan pembaharuan dikarenakan alasan diatas. Ia merasa apa yang dilakukan oleh sultan yang melakukan atau menjalankan roda pemerintahan yang secara otoriter dan boleh dibilang berdasarkan ajaran Islam ternyata tidak memberikan kontribusi seperti apa yang ia lihat di Negara-negara Eropa. Dengan berkaca kepada Eropa, ia mulai melakukan pembaharuan dan menetapkan Eropa sebagai kiblat pengetahuan mereka. Ia sadar apa yang dilihat di Eropa yang mayoritas bukan Islam ternyata memberikan apa yang diungkapkan oleh ajaran Islam yang tidak dimiliki oleh pemerintahan Islam itu sendiri. Oleh karena itu, ia mencoba memisahkan apa yang disebut dengan proses yang dikenal sebagai peng-“Kemalisasian” secara keseluruhan terhadap otoritas pemerintahan.

Dengan kejadian-kejadian seperti ini proses pembaharuan dalam Islam dianggap perlu dan mulai gencar dilakukan oleh umat Islam dan perlu adanya kontak-kontak internasional dalam mempengaruhi hal tersebut. Dengan proses pembaharuan atau tajdid ini berjalan maka proses penafsiran akan Islam pasti akan terus terjadi ketika konsep al-Qur’an sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Attaturk walaupun kemudian ia harus mengakui bahwa perubahan yang ia lakukan tidak sepenuhnya dapat dilakukan karena kebanyakan orang yang belum siap terhadap perubahan tersebut.

Islam memang pernah menguasai dunia di tiga benua pada masa kerajaan Turki, yaitu Asia, Afrika dan Eropa. Oleh karena itu, perjuangan para orang-orang Eropa untuk menghancurkan kekuasaan Turki sangat gencar sekali dilakukan. Diantara gerakan ini telah dimulai sejak Paus Sylvestr II pada 1002 M. Tetapi dia tidak mencapai maksudnya hingga pada kekuasaan Paus Gregorius VII akhirnya pada tahun 1075 M. barulah perang salibiyah bisa terjadi.

Menurut Hassan Hanafi, sebagaimana dikemukakan oleh Kazuo Shimogaki dalam Kiri Islam: Antara Modernisme dan Postmodernisme (1993), Barat sekarang ini secara sadar dan gencar melakukan imperialisme kultural atas dunia Islam sehingga proyek modernisme Barat yang dikenalkan pada dunia Islam tak lain dari sebuah penaklukkan dan dominasi.

Penaklukkan ini, kata Esposito, telah memporakporandakan bangunan sejarah tata nilai dan kelembagaan yang telah beratus tahun tegak dalam komunitas muslim. Namun demikian, meskipun secara sosial dunia Islam mengalami kelumpuhan akibat kolonialisme Barat, monoteisme Islam yang begitu kuat yang telah berakar ratusan tahun dalam sejarah sanggup menjadi benteng pertahanan dan ruh bagi dunia Islam untuk mencoba bangkit melawan Barat.

Seperti gerakan wahhabi (1703-1792), gerakan-gerjakan jihad Afrika juga berupaya menginginkan adanya pemerintahan dan kekuasaan Islam dan inilah sebagai refleksi dari kenangan akan kejayaan Islam dimasa lalu. Proses pelurusan seperti apa yang dilakukan oleh wahhabi merupakan tindakan yang baik. Namun, hal-hal yang diluar batas terjadi dimana makam-makam para sufi ikut dibumi hanguskan sebagai bentuk pelurusan aqidah menurut mereka, ketika makam tersebut menjadi tempat pemujaan para masyarakat yang mengkramatkannya. Sedangkan gerakan jihad di Afrika adalah upaya menginginkan adanya pemerintahan Islam yang bebas dari syirik. Menurut Dr. Iskandar Usman, ia mengatakan bahwa pemahaman terhadap Islam perlu terus-menerus diperbaharui dengan memberikan penafsiran-penafsiaran baru terhadap nash syarak dengan cara menggali kemungkinan-kemungkinan lain atau alternatif-alternatif yang bisa diangkat dalam menjawab masalah-masalah baru. Seharusnya Islam mampu mengintegrasikan dan meresap banyak unsur asing sesuai dengan semangat keuniversalan Islam tadi.

Bagaimana sebenarnya kasus perkembangan Islam dalam konteks pemahaman mereka tentang kemodernan tersebut? Sayyeid Hussein Nasr adalah salah seorang pemikir Islam yang ikut dan selalu berkecimpung dalam perkembangan pemikiran Islam di dunia barat. Kelahiran Iran ini yakin bahwa peradaban Islam akan kembali pada masa kejayaannya dan kemajuan yang terjadi pada Greek hanya merupakan salah satu fase dalam pengembangan suatu pemikiran yang benar-benar bebas, sama seperti apa yang dikatakan oleh H. Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya Sejarah Islam dan Umatnya yang diterbitkan oleh Bulan Bintang pada tahun 1979.

Dalam beberapa hal Islam sangat berkesan dalam sejarah agama-agama. Dalam wahyu Islam mengatakan bahwa wahyu-wahyu yang lain merupakan sesuatu yang absah dan Bertrand Russerl mengatakan bahwa agama Islam adalah agama yang kurang fanatik. Ia memberikan pandangan toleransi yang cukup tinggi dan kebebasan beragama bagi umat manusia. Bahkan menurutnya sejumlah kecil tentara Islam mampu memerintah daerah kekuasaannya yang amat luas dengan mudah.

Salah seorang pengarang Amerika, Norman Agell, pernah mengatakan dalam bukunya “The Story of Money” pada tahun 1929. Perkiraan dia adalah bahwa Minyak Arab mengundang supaya saling membantu dengan Barat yang memerlukan minyak agar memberikan tekhnologi modern-nya dan menerima ajaran Islam yang lahir di atas pengakuannya menjadi agama.

Perlu kita ketahui bahwa segala sesuatu dan bahkan banyak sekali pengetahuan itu bermunculan dari dunia barat dan Eropa. Oleh karena itu, maka seolah-olah umat Islam yang ingin melakukan perubahan tersebut harus melupakan kontribusi barat dalam hal sains dan banyak lagi yang lain dan tentunya sesuatu yang dianggap memberikan kontribusi positif bagi perkembangan umat Islam. Kini yang diharapkan dari Islam adalah dia harus bangun dan bangkit dari tidurnya agar sadar akan ketertinggalan mereka dari dunia barat yang sudah maju terlebih dahulu dan jangan hanya mengandalkan sejarah masa silam. Karena sejarah hanya sebagai sebuah kenangan yang tak akan kembali lagi. Mungkin yang menjadi pokok pemikiran umat Islam adalah bagaimana mereka menjadi terbebas dari kungkungan dunia barat dan bisa maju tanpa mereka. Bagaimana mereka meningkatkan kwalitas ekonomi dan perbaikan moral bagi kalangan birokrat yang sudah begitu meluas dan telah terjangkit virus yang sangat membahayakan. Seperti hilangnya rasa solidaritas sesama muslim, saling sikut sesama muslim, persaingan yang tidak Islami dan lain sebagainya yang bisa merusak persaudaraan sesama muslim belakangan ini yang sudah semakin marak. Apakah umat muslim menjadi terlena oleh kenangan indah mereka ketika umat Islam dimasa-masa kejayaannya dan terbuai karena telah dininabobokkan oleh Huston Smith yang menyatakan bahwa umat Islam berkembang lebih unggul dari kristen adalah sepuluh berbanding satu. Kemudian yang perlu kita pertanyakan adalah apakah umat Islam hanya bangga dengan status mereka sebagai penduduk dunia yang mayoritas?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home