KESADARAN YANG TERHAMPARKAN

Ketika hidup harus diperjuangkan, maka kegagalan sudah pasti akan datang. Namun, kau harus bisa mengendalikannya. Maka kemenangan takkan tega tuk menjauhimu. Cinta tak pergi tuk mendua...

Monday, October 09, 2006

Kisah Perjalanan Ajaran Taoisme

Dosen : Suratno, MA

Oleh : Suryahman
204.000.360


Lao Tzu
Adalah orang yang memberikan dasar pijakan pada perkembangan aliran Taoisme berikutnya. Oleh karena itu Lao Tzu dalam bahasa oleh para penganutnya diartikan dalam bahasa indonesia sebagai Sang Guru Tua, Putra Tua, Sahabat Tua. Menurut kitab shiji nama asli Laozi adalah Lier, nama sopanya adalah Boyang dan nama almarhumnya adalah Dan. Ia mendapatkan gelar tersebut berdasarkan legenda yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan dalam sejarah hidupnya yang tidak begitu jelas keberadaannya. Apakah ia benar-benar hidup atau tidak? Karena ia hanya bisa diketahui melalui beberapa buku yang menurut penganutnya ditulis oleh ia sendiri, Lao Tzu berada dalam kandungan ibunya selama 82 tahun yang hidup kira-kira pada tahun 640 SM. Diriwayat lain diceritakan bahwa ia lahir pada tahun 570 – 470 SM. Dilahirkan di provinsi Ku, Chuguo yang sekarang dikenal sebagai provinsi Henan. Walaupun ada yang mengatakan bahwa ajaran ini bermula digagas oleh Yang Chu (440-36 SM).
Para ilmuan menganggap dalam buku kecilnya yang diperkirakan ia tulis sendiri menyatakan bahwa ia adalah sebagai seorang petapa penyendiri yang kesepian yang hanyut dalam meditasi okultis personalnya. Beliau sempat menjabat ketua pustakawan Chuguo dinasti Zhuo. Disini ia banyak mendapatkan pencerahan melalui bacaan-bacaan. Pada perkembagan berikutnya Lao Tzu pergi ke arah barat yang sekarang menjadi sebuah daerah yang banyak meninggalkan sejarah yaitu Kota Tibet. Di lembah Hankao ia sempat istirahat selama tiga hari dan meninggalkan sejarah yang sangat berharga bagi perkembangan bahasa cina berikutnya. Ia menulis buku kecil yang memuat 5.000 buah huruf cina yang berjudul Tao Te Ching atau jalan kekuatannya sebanyak 81 bab. Dalam bukunya tersebut berisikan suatu kesaksian dari keserasian manusia dengan alam semesta.
Karena kepintaran ia, menurut catatan Chuangzi, Kong Hu Cu pernah bertemu dengan Lao Tzu dan belajar tentang kesopanan dengannya. Dan menurut catatan Chuangzi pula diperkirakan Kong Hu Cu lebih muda 20 tahun dari Lao Tzu dan bertemu pada usia 17 tahun untuk pertama kali dan berikutnya pada usia ke-34 tahun dan perjumpaan ketiga di Xiangyi semasa 51 dan 66 tahun.

Taoisme
Pada mulanya Taoisme hanya sekedar ajaran filsafat Laozi, dan Zhuangzi. Filsafatnya hanya membicarakan mengenai kesehatan dan kehidupan abadi. Hingga pada perkembangannya ajaran filsafat tersebut menjadi dasar perkembangan untuk ditafsirkan kepada dewa-dewa dalam mencapai keabadian.
Falsafah Taoisme dimulai dengan skeptisisme dan kekecewaan terhadap keadaan masyarakat dan situasi politik di Cina pada abad ke-5 M. Pada masa itu banyak sekali peperangan dan pemberontakan, korupsi dan penyelewengan merajalela. Raja-raja, bangsawan dan panglima-panglima perang hidup penuh kemegahan dan kemewahan di atas kesengsaraan rakyat. Menurut penganut Taoisme, peradaban hedonistis dan materialistis telah merusak kehidupan manusia, dan untuk memulihkan peradaban yang sedang sakit, manusia perlu kembali kepada alam dan menyatu dengan alam. Pernyataan kekecewaan itu dalam sindiran Chuang Tzu :

“Bekerja membanting tulang seumur hidup tanpa pernah melihat hasilnya, dan bersusah payah bekerja keras tanpa mengetahui apa yang akan dihasilkan – bukankah yang demikian itu sangat menyedihkan?”.

Tiga makna Tao
1. Tao yang diartikan sebagai jalan dari kenyataan terakhir.
Dalam pengertian dan pemahaman terhadap Tao adalah pemahaman terhadap kesadaran mistik yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam kata-kata, bahkan ia mengartikannya sebagai asas yang menyusun segala sesuatu. Ia sederhana, tanpa bentuk, tanpa gerak, tanpa hasrat, tanpa upaya. Ia ada sebelum adanya langit dan bumi. Karena adanya penciptaan dan berkembangnya peradaban manusia kian jauh dari Tao jalan yang benar dan penuh kebajikan spiritual. Tao yang dapat dibayangkan bukanlah Tao sesungguhnya. Dengan kata lain dalam semboyan Tao adalah “Mereka yang mengetahui tidak akan bicara, sedangkan mereka yang bicara tidak mengetahui”. Tao kadang merupakan kata kerja dan kata benda, misalnya dalam baris pertama sajak pertama Tao Te Ching dinyatakan :

Jalan (Tao) yang dapat dijalani atau ditempuh bukan jalan abadi Nama yang dapat diberi nama bukan nama yang sesungguhnya.

Tao juga diberi makna sebagai Dzat Ilahiyah, yaitu keadaan sang pencipta sebelum turun ke alam penciptaan.

2. Tao yang diartikan sebagai jalan alam semesta
Dalam pengertian yang kedua Tao diartikan untuk mengambil wujud fana’. Dan memberi tahu segala sesuatu. Ia hanya besifat rohanian. Ia menyesuaikan hakikatnya yang penuh gairah, menjernihkan kepenuhan dirinya yang tumbuh secara berlipat ganda, meredupkan kemuliaannya yang gilang gemilang, dan mengambil rupa sebagai debu. Karena pada dasarnya ia bukan benda melainkan roh, ia tidak dapat dimusnahkan.

3. Tao yang diartikan sebagai jalan bagaimana seharusnya manusia menata hidupnya.
Setelah memahami dan adanya kesadaran yang berdasarkan rohani atau bersifat mistik itu, maka dalam Tao kemudian memberikan solusi hidup yang harmonis dengan alam. Yang boleh dikatakan sekarang adalah seperti olah raga yoga.

Beberapa penafsiran lain mengenai buku Tao Te Ching, diantaranya adalah :
1. Taoisme Rakyat
Taoisme rakyat merupakan aliran kepercayaan yang telah merakyat dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, maka aliran ini kemudian mengalami perkembangan yang begitu pesat karena telah merakyat tadi. Namun, Taoisme rakyat ini kemudian menjadi tidak murni lagi ketika banyak sekali orang awam memahami hal tersebut dengan berbeda. Karena banyak sekali penafsiran dan jamahan oleh orang-orang, maka Taoisme rakyat tak lagi menjadi pedoman yang paling murni dalam ajaran Taoisme. Menurutnya sebuah ajaran merupakan suatu konsep yang terlalu halus untuk dapat ditangkap oleh pikiran atau jiwa yang rata-rata saja.

2. Taoisme Esoterik
Gaya tarik jenis Tao ini adalah terletak pada segi batiniah manusia yang dilawankan dengan segi lahiriahnya. Manusia baik dapat dilihat dari apa yang dikatakannya, perbuatannya, dan perasaan lahir yang ditunjukkannya, maupun segala sesuatu yang ada di dalam dirinya seperti perasaan pada dirinya. Taoisme Esoterik ini muncul ketika alam pikiran Cina menemukan dimensi batiniahnya dan terpesona olehnya.
Ajaran Tao ini selalu mengedepankan kesenangan alam rohani yang begitu indah. Menurut ajarannya bahwa kehidupan ini selalu berlumuran dengan keresahan dan penderitaan. Oleh karena itu, maka mereka beranggapan bahwa dunia rohaniahlah yang bisa menyelesaikan masalah penderitaan dan keresahan yang disebabkan oleh dunia. Setelah manusia merasakan dan menelurusi kehidupan yang begitu susah, maka seseorang kemudian baru dapat mencapai apa yang disebut dengan kesadaran murni.
Jiwa yang murni hanya dapat dikenal dalam kehidupannya yang terhias dan tanpa noda, hanya jika segala sesuatu telah bersih barulah ia menampakkan dirinya, karena itu, diri sendiri disembunyikannya. Emosi yang mengganggu harus dimusnahkan.


“Hasrat dan jijik, kesedihan dan kegembiraan, kesenangan dan kejengkelan, semuanya itu harus menuunr jika alam pikiran akan dikembalikan kepada kemurnian yang asli, karena pada akhirnya hanya kedamaian dan keheningan yang baik untuknya. Usirlah keresahan itu, dan keselarasan antara alam pikiran dengan sumber kosminya akan muncul tanpa dicari. Tunggulah dalam keheningan, dan sinar itu akan datang dan tetap berdiam selamanya.”

Puncak pemahaman dalam Taoisme Esetorik tercapai bersamaan dengan dampak finalitas, bahwa segala sesuatu akhirnya kembali ke tempatnya. Keadaan tersebtu, tidaklah dapa digambarkansebagai sekedar sesuatu yang menyenagkan. Persepsi alngsung tentang sumber kesadaran seseorang sebgai kessadaray nyang tenagn dan mantap.

3. Wei Wu Wei (Keheningan yang Kreatif)
Sifat dasar kehidupan yang selaras dengan alam semesta adalah wu wei. Konsep ini sering diterjemahkan sebagai tidak berbuat apa-apa atau tidak bergerak. Tetapi jika terjemahan itu berarti suatu sikap yang kosong atau menahan diri secara pasif, maka pengertian tersebut tidak tepat.
Wei wu wei adalah ungkapan paradoksal yang merupakan kunci mistisisme Cina dan tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Wei artinya berbuat, bertindak, tetapi kadang berarti lain, tergantung cara mengatakannya. Wu artinya negatif, tidak, tanpa. Terjemahannya secara maknawi ialah “Berbuat tanpa bertindak”. Dikenakan pada seseorang berarti diam, tenang, pasif, pasrah sehingga mencapai Tao, hakekat terakhir, alam wujud. Artinya bertindak melalui Tao tanpa upaya kesadaran diri. Juga berarti hanyut dalam persatuan dengan alam, yang dengan itu memperoleh kesadaran semesta. Wu wei adalah hidup tanpa ketegangan :

Tagangkanlah terus busur panah itu
Anda akan lelah karena menarik
Suatu gergaji yang selalu diasah
Akan menjadi tipis dan tumpul
(Tao Te Ching bab 9)

Diantara pemahaman mengenai nilai Tao tadi diatas, ternyata masih ada beberapa pemahaman mengenai nilai Tao. Nilai yang terkandung adalah bahwa Tao tidak mengutamakan sifat dalam penonjolan diri menurut isi buku Tao te ching dinyatakan :

Kapak akan segera menumbangkan pohon yang paling tinggi.
“jika berdiri berjingkat orang akan kehilangan keseimbangan,
Mengagumi diri hanya dapat dilakukan di kala sepi...
Di dunia ini tidak pernah seorang yang berpikiran sehat akan
Bekerja berlebihan
Belanja berlebihan
Menilai diri berlebihan”
(Bab 24 dan 29)

Kemudian yang membedakan antara Taoisme dengan Konfusianis adalah Tao yang mengutamakan dorongan kepada kesederhanaan. Ciri lain yang dapat diungkapkan bahwa Tao mempunyai konsepsi tentang kenisbian semua nilai, sebagai imbalan dari asas ini adalah adanya persamaan dari hal yang bertentangan. Selanjutnya pada perkembangannya ciri ini berhubungan dengan simbolisme dalam tradisi cina tentang Yang dan Yin.
Menurut Yin Yang, bahwa kehidupan ini menunjukkan sifat dasar kehidupan yaitu baik-jahat, hidup-mati, positif-negatif dan lain sebagainya. Walaupun asas ini kelihatan menunjukkan ketegangan pada diri mereka. Namun, pada dasarnya keduanya menyatu dalam sebuah lingkaran yang saling melingkupi sebagai suatu perlambang dari kesatuan terakhir dari Tao.
Taoisme mengikuti asas kenisbian yang dianutnya sampai pada batas yang logis, bahwa hidup dan mati itu sendiri dipandang sebagai suatu tahap yang relatif dari kesinambungan Tao yang mencakup segala-galanya.
Sewaktu isteri Chung Tzu meninggal, seorang sahabat datang untuk menghadiri upacara berkabung. Ia terkejut sewaktu melihat Chung Tzu memukul-mukul sebuah mangkuk nasi yang diletakkan terbalik sambil bernyanyi. “bagaimanapun juga, kata temannya ia telah hidup bersamamu, membesarkan anak-anakmu, dan menjadi tua bersamamu.” Bahwa anda tidak perlu berkabung baginya sudah merupakan sesuatu hal yang tidak baik; tetapi membiarkan sahabatmu menemukan anda memukul gendang serta bernyanyi hal itu sungguh keterlaluan!”
“Anda salah sangka terhadap saya,” kata Chung Tzu. “Sewaktu dia meninggal saya merasa putus asa, seperti halnya dengan setiap laki-laki yang lain. Tetapi segera setelah saya merenungkan apa yang telah terjadi, saya mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa dalam kematian tidak akan ada nasib baru yang aneh menimpa kita.... Jika seseorang lelah dan pergi tidur, kita tidak akan mengusiknya dengan keributan dan berteriak riuh-rendah. Dia yang telah meninggalkan saya telah tidur untuk sementara dalam Ruangan Dalam yang Agung. Mengganggu istirahatnya dengan suara kesedihan hanya menunjukkan bahwa saya sama sekali tidak mengetahui Hukum Tertinggi dari alam. Itulah sebabanya saya tidak lagi berduka cita.”

Itulah bumi
Landasan bagi kehidupan jasmaniku
Ia membuatku lelah dan payah dengan pekerjaan dan kewajiban
Ia memberiku istirahat di kala aku tua,
Ia memberiku kedamaian di kala aku meninggal
Karena ia yang memberiku apa yang kuperlukan sewaktu hidup
Juga akan membekaliku dengan apa yang kuperlukan dalam kematian”

Lao Tzu sangat menekankan dan menyanjung spontanitas dan sifat alamiah. Lao Tzu selalu memperhatikan apa yang ada dibalik manusia, sehingga Lao Tzu banyak bergelut dengan masyarakat. Setelah mengalami berbagai penafsiran yang beraneka ragam. Maka, agama Lao Tzu kini tertafsirkan menjadi agama Dao atau Daojia yang kedua pengertian ini mempunyai makna yang sama yaitu memakai ajaran Taoisme dalam tradisi keagamaan penganutnya. Agama Dao mengandung misteri untuk menjadi dewa, ia bersifat kemanusiaan yang berpotensi memenuhi keperluan rohaniah manusia. Dalam agama ini Laozi didewakan sebagai Taishanglaojun dan kitabnya adalah Daode Jing dan Zhuangzi.

Ada suatu kehidupan, mengagumkan, sempurna
Ia ada sebelum langit dan bumi ada
Alangkah tenangnya!
Alangkah rohaniahnya!
Ia mandiri dan tidak berubah.
Ia berputar terus-menerus, tetapi tidak menderita karenanya.
Semua kehidupan bersumber dari dirinya.
Ia menyelimuti segalanya dengan cintanya ibarat jubah, dan kareena
Ia tidak menghendaki penghormatan, ia juga tidak menuntut menjadi Tuhan
Aku tidak tahu apa namanya, karena itu aku sebut ia Tao, jalan, dan saya bergembira dalam kekuasaannya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home